Selasa, 21 Oktober 2008

Musisi dan Pembajak








Bicara soal musik tanah air, sepertinya kita boleh berbangga hati. pasalnya emang belakangan ini udah marak banget musisi2 tanah air yang menunjukkan eksistensinya dalam bermusik. gk keitung sudah berapa banyak musisi yang mengeksiskan diri n mencamtumkan namanya diindusti ini.
mulai dari musisi senior sampe yang masih berumur jagung, adu kekuatan buat unjuk gigi. lagu2nya didenger dimana2. mulai dari gadget pribadi, radio lokal bahkan sampe kemalaysia,tv nasional dalam chart2 tangga lagu, kendaraan umum,cafe2 dimanapun. gk ketinggalan bagi para pengamen jalanan. mereka gk bakal kepusingan lagi milih lagu yang asik didenger costemer. ini memang menjadi dilematis bagi kita.ditengah kesulitan bangsa ini dalam menghadapi dampak krisis global n kelumpuhan akibat krisis moneter taon '98 yang masih berdampak bagi perekonomian negara,mereka masih mampu membuktikan bahwa masih banyak yang bisa kita banggakan dari bangsa ini pada masyarakat dunia.yang lebih membahagiakan lagi, mereka bisa memberikan devisa bagi negara melalui album pembelian dan show yang mereka adakan.
dan seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat sekarang mulai mengenal yang namanya digital album. dimana setiap orang bisa mengakses album atau lagu yang mereka inginkan via internet. jadi gk perlu lagi beli album bentuk hardisknya. kemudahan ini berdampak juga ama pendapatan musisi yang menggantungkan incomenya ama pembelian albumnya. terlebih bagi musisi yang masih baru. inovasi ini juga baru beberapa musisi yang menggunakan. kalau mendownload lagu aja bisa gratis,darimana mereka bisa mendapatkan pemasukan. belum lagi masalah pembajakan yang jadi penyakit kronis negeri ini. dari dulu yang namanya pembajak laris aja kaya kacang rebus. terkadang yang bikin heran, belum juga kita denger lagunya ternyata udah ada dikaset bajakan. faktor murah yang ditawarkan para pembajak emang menjadi kendala utama sulitnya memberantas pembajakkan. tapi sebenarnya menurut teori ilmu ekonomi, dimana ada pembeli maka disitu ada penjual. jadi kita juga yang sebenarnya melegalkan yang namanya pembajakan. seandainya kita gk membeli kaset bajakn, pasti mereka para pembajak akan kehilangan konsumen n berimbas pada kebangkrutan usaha mereka. n seandainya kita membeli kaset original, kita juga menyumbangkan devisa buat negara. tapi namanya juga orang indonesia (bukan maksudnya nyindir, ya sebagian lah) yang kebanyakan perekoniomiannya relatif menengah kebawah, mereka mungkin berpikir buat apa juga beli yang mahal klo ada yang jual murah. padahal klo musisi gk bisa mendapatkan pemasukan. sulit juga buat mereka untuk menciptakan karya2 yang baru. so...mau sampai kapan kita memelihara trend pembajakkan seperti ini?
segalanya kembali pada kita...
karena hidup itu pilihan...


maju terus industri musik tanah air.....

Tidak ada komentar: